Seorang Psikopat Mengikutiku Lewat Media Sosial

 Seorang Psikopat Mengikutiku Lewat Media Sosial


Saat aku berumur 14 tahun aku membuat akun media sosial untuk pertama kali. Teman-temanku di media sosial hanya orang-orang yang kukenal selama ini misal teman di sekolah, guru atau tetanggaku. Tapi pada suatu hari ada orang tak dikenal mengajak pertemanan di akunku. Aku terima pertemanan itu. Namanya Eri, dia seorang laki-laki berumur masih belasan tapi lebih tua dari aku, mungkin dia baru saja lulus SMA. Anehnya, foto-foto dia yang dipasang di akunnya selalu menggunakan masker. Aku tidak mengerti apa maksudnya. Mungkin dia ingin memberi kesan sosok misterius kepada orang lain. Suatu hari Eri mengirim pesan di inbox dan mengajakku chatting. Aku layani permintaan dia karena aku sendiri juga penasaran tentang dia. Dia memujiku cantik, aku pun bilang terima kasih. Kami chating selama hampir 15 menit, kemudian dia meminta nomor ponsel dan alamatku. Entah kenapa saat itu aku memberitahu begitu saja nomor ponsel dan alamat rumahku. Ternyata rumah dia berada di kota yang sama dengan kota tempat tinggalku. Dia bilang suatu saat ingin bertemu denganku, aku bilang oke. Sejak saat itu pertemanan kami di media social semakin akrab. Setiap hari kami mengobrol menggunakan akun media social atau ponsel. Namun semakin lama aku merasa Eri semakin over protective. Setiap beberapa menit dia selalu kirim pesan ke ponselku. Dia sering bertanya “sedang apa” atau “dengan siapa”.